Archive for the Uncategorized Category

Pengaruh Berbakti Kepada Orang Tua

Posted in Uncategorized on Mei 13, 2008 by kamelia

Oleh
Ummu Salamah As-Salafiyyah

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Aku pernah tidur, lalu aku bermimpi diriku berada di Surga, lalu aku
mendengar suara seorang yang sedang membaca (al-Qur’an), lalu
kutanyakan, ‘Siapa ini?’ Mereka menjawab, ‘Ini adalah Haritsah bin
an-Nu’man”

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Demikianlah ganjaran dari berbakti, demikianlah ganjaran dari berbakti”

Beliau adalah orang yang paling berbakti terhadap ibunya. [HR. Ahmad dengan sanad yang shahih]

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Ketika ada tiga orang berjalan-jalan tiba-tiba mereka kehujanan, lalu
mereka berteduh di dalam gua pada sebuah gunung. Ketika mereka tengah
berada di dalam gua itu, tiba-tiba ada batu besar yang jatuh sehingga
menutupi mulut gua tersebut. Lalu sebagian mereka berkata kepada
sebagian lainnya, ‘Lihatlah pada amalan yang paling baik yang pernah
kalian kerjakan, lalu mohonlah kepada Allah dengan amalan tersebut,
siapa tahu akan dibukakan celah pada batu tersebut bagi kalian.’ Lalu
salah seorang di antara mereka berkata, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku
mempunyai dua orang tua yang sudah lanjut usia sementara aku memiliki
isteri dan juga anak-anak yang masih kecil. Dan aku memelihara mereka.
Karenanya, jika aku telah mengandangkan kambingku, aku mulai mengurus
kedua orang tuaku, dimana aku memberi minum susu keduanya. Kemudian aku
tidak mendatanginya sehingga kedua orang tuaku tidur. Kemudian aku
membersihkan bejana, lalu memerah susu. Selanjutnya aku membawa susu
itu dekat kepala kedua orang tuaku sementara anak-anak bergelantungan
di kedua kakiku, karena aku tidak ingin memulai mengurus mereka sebelum
mengurus kedua orang tuaku dan aku tidak ingin membangunkan keduanya.
Dan aku masih terus berdiri sampai fajar bersinar terang. Ya Allah,
jika Engkau tahu bahwa aku melakukan hal itu dalam rangka mencari
keridhaan-Mu, maka bukakanlah untuk kami sebuah celah dimana kami dapat
melihat langit darinya. Maka Allah pun membukakan celah bagi mereka
sehingga mereka dapat melihat langit darinya. [HR. Al-Bukhari dan
Muslim]

Dari Usair bin Jabir, dia berkata, ‘Umar bin al-Khaththab jika
didatangi oleh rombongan penduduk Yaman, maka dia akan bertanya kepada
mereka, “Apakah di antara kalian terdapat Uwais bin ‘Amir?” Sehingga
dia mendatangi Uwais seraya berkata, “Engkau Uwais bin ‘Amir?” “Ya,”
jawabnya.
‘Umar berkata, ‘Dari Murad dan kemudian Qaran?’ ‘Ya,’ jawabnya. ‘Umar
berkata, “Dan padamu terdapat penyakit kusta, lalu engkau sudah sembuh
darinya, kecuali tersisa sebesar dirham?” “Ya,” jawabnya.
‘Umar bertanya, “Apakah engkau masih memiliki ibu?’ ‘Ya, masih,’ jawabnya.
‘Umar berkata, aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Akan datang kepada kalian Uwais bin ‘Amir dari rombongan penduduk
Yaman dari Murad, kemudian dari Qaran. Dimana padanya terdapat penyakit
kusta dan kemudian sembuh darinya kecuali satu tempat dari tubuhnya
sebesar uang dirham. Dia memiliki seorang ibu yang dia sangat berbakti
kepadanya. Jika dia bersumpah kepada Allah, niscaya Allah akan
menerimanya. Oleh karena itu, jika engkau bisa meminta kepadanya supaya
memohonkan ampunan untukmu, maka lakukanlah.’ Oleh karena itu,
mohonkanlah ampunan untukku.”

Kemudian dia pun memohonkan ampunan untuknya. Lalu ‘Umar berkata
kepadanya, “Ke mana engkau hendak pergi?” “Ke Kufah,” jawabnya.

‘Umar berkata, “Maukah engkau aku tuliskan surat untukmu kepada
pemimpinnya?” Dia berkata, “Aku tinggal bersama orang-orang miskin
lebih aku sukai.”

Usair berkata, “Dan pada tahun berikutnya, ada seseorang, yang termasuk
pemuka di antara mereka, lalu berpapasan dengan ‘Umar, kemudian ‘Umar
menanyakan Uwais. Orang itu berkata, ‘Aku meninggalkannya dengan rumah
yang mengenaskan dan sedikit harta.’

‘Umar berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, ‘Akan datang kepada kalian Uwais bin ‘Amir dari
rombongan penduduk Yaman dari Murad dan kemudian dari Qaran. Di mana
padanya terdapat penyakit kusta, kemudian sembuh darinya kecuali satu
tempat pada tubuhnya sebesar uang dirham. Dia memiliki seorang ibu yang
dia sangat berbakti kepadanya. Jika dia bersumpah kepada Allah, niscaya
Allah akan mengabulkannya. Oleh karena itu, jika engkau bisa meminta
kepadanya supaya memohonkan ampunan untukmu, maka lakukanlah”

Lalu Usair mendatangi ‘Uwais seraya berkata, “Mohonkanlah ampunan untukku.”
Usair berkata, ‘Engkau baru saja melakukan perjalanan yang baik, maka
mohonkanlah ampunan untukku. Apakah engkau pernah bertemu ‘Umar?’ ‘Ya,’
jawabnya.

Lalu dia pun memohonkan ampunan untuknya. Maka orang-orang pun memahaminya sehingga mereka pun pergi mendatanginya.

Usair berkata, “Aku memakaikan baju burdah kepadanya. Di mana setiap
kali dia dilihat oleh orang, maka orang itu berkata, ‘Dari mana Uwais
mendapatkan baju burdah itu?'” [HR.. Muslim]

PERBUATAN BAIK YANG PALING BAIK
Dari ‘Abdullah bin Dinar dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma
bahwasanya ada seseorang dari Arab badui menemuinya pada satu jalan di
Makkah, lalu ‘Abdullah bin ‘Umar memberinya salam dan membawanya di
atas keledai yang ia tumpangi dan dia berikan penutup kepala yang ada
di atas kepalanya. Ibnu Dinar berkata, “Lalu kami katakan kepadanya,
‘Semoga Allah memperbaiki keadaanmu, sesungguhnya dia itu termasuk
orang-orang badui dan orang-orang badui ridha dengan pemberian yang
sedikit”

Lalu ‘Abdullah bin ‘Umar berkata, “Sesungguhnya bapak orang ini adalah
sahabat baik ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu dan sesungguhnya
aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

“Sesungguhnya kebaikan yang paling baik adalah menyambung tali
silaturahmi yang dilakukan oleh seseorang terhadap keluarga orang
kecintaan ayahnya” [HR. Muslim]

[Disalin dari buku Al-Intishaar li Huquuqil Mu’minaat, Edisi Indonesia
Dapatkan Hak-Hakmu Wahai Muslimah, Penulis Ummu Salamah As-Salafiyyah,
Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Penerjemah Abdul Ghoffar EM]

Iklan

Manfaat Membaca Basmalah

Posted in Uncategorized on Mei 13, 2008 by kamelia

Sumber : Pustaka Aisyah(http://safuan.wordpress.com)

Manfaat Membaca Basmalah

Bismillah sebuah kalimat yang tidak asing di telinga dan lisan seorang muslim. Bismillah diucapkan ketika akan memulai setiap perkara yang bermanfaat. Dzikir ini mengandung keutamaan, diantaranya sebagai berikut:

Terjaga dari Setan

Rasulullah bersabda:
“Apabila seorang masuk ke rumahnya dan mengingat Allah (berdzikir) ketika masuknya dan ketika makan, maka setan berkata: “Tidak ada tempat istirahat dan makan malam untuk kalian.” Dan apabila ia masuk dan tidak mengingat Allah ketika masuk, maka setan berkata: “Kalian telah mendapatkan tempat istirahat.” Dan apabila ia tidak mengingat Allah ketika makan, maka ia berkata:”Kalian mendapatkan tempat istirahat dan makan malam”.1
Imam Nawawi berkata, “Dengan demikian, disunnahkan untuk mengingat Allah ketika masuk rumah dan makan.”2

Menyempurnakan Barakah

Dengan bismillah akan dapat menyempurnakan keberkahan pada amal, Rasulullah bersabda,
“Setiap perkara yang tidak dimulai dengan bismillah (dalam riwayat lain: dengan mengingat Allah), maka amalan tersebut terputus (kurang) keberkahan-Nya.”3

Dilindungi Allah dari gangguan Jin

Dan sabdanya, “Penghalang antara mata jin dan aurat Bani Adam, apabila salah seorang dari mereka melepas pakaiannya, ialah dengan membaca Bismillah.”4

Pengalaman Nyata

Ketika Khalid bin Walid tertimpa kebimbangan, mereka berkata kepadanya, “Berhati-hatilah dengan racun, jangan sampai orang asing memberikan minum padamu,” maka ia berkata, “berikanlah kepadaku,” dan ia pun mengambil dengan tangannya dan membaca: “Bismillah,” lalu ia meminumnya. Maka sedikitpun tidak memberikan bahaya kepadanya. 5
Sumber : Al-Hisnu al-Waqi’, Syaikh Dr. ‘Abdullah bin Muhammad as-Sad-han, dengan pengantar dari Syaikh Dr. ‘Abdullah bin Abdir-Rahman bin Jibrin.

HR. Muslim, 2018.
Syarh Muslim ‘ala Muslim, 7/54
Dishahihkan oleh Jamaah, seperti Ibnu Shalah, Nawawi di dalam Adzkar-nya. Syaikh bin Baz berkata: “Hadist Hasan dengan syawahidnya”.
Sebagaimana terdapat dalam al-Jami’ Shaghir. Dan dihasankan oleh Munawi dalam syarhnya.
Dikeluarkan oleh al-Baihaqi, Abu Nu’aim, Thabrani, Ibnu Sa’ad dengan sanad yang shahih. Lihat Tahdzib at-Tahzib, Ibnu Hajar, 3/125.
Diketik ulang dari Majalah As-Sunnah Edisi 01/Th. XII/1429H/2008M Hal. 8 dalam kolom “Baituna”.

Konsep Kebagahagiaan Dalam Islam

Posted in Uncategorized on Mei 13, 2008 by kamelia

Oleh: Ustadz Abdul Latief

Kondisi senantiasa bahagia dalam situasi apa pun, inilah yang senantiasa dikejar oleh manusia. Manusia ingin hidup bahagia. Hidup tenang, tenteram, damai, dan sejahtera. Sebagian orang mengejar kebahagiaan dengan bekerja keras untuk menghimpun harta. Dia menyangka bahwa pada harta yang berlimpah itu terdapat kebahagaiaan. Ada yang mengejar kebahagiaan pada tahta, pada kekuasaan. Beragam cara dia lakukan untuk merebut kekuasaan. Sebab menurutnya kekuasaan identik dengan kebahagiaan dan kenikmatan dalam kehidupan. Dengan kekuasaan seseorang dapat berbuat banyak. Orang sakit menyangka bahagia terletak pada kesehatan. Orang miskin menyangka bahagia terletak pada harta kekayaan. Rakyat jelata menyangka kebahagiaan terletak pada kekuasaan. Dan sangkaan-sangkaan lain.

Lantas apakah yang disebut”bahagia’ (sa’adah/happiness)?
Selama ribuan tahun, para pemikir telah sibuk membincangkan tentang kebahagiaan. Kebahagiaan adalah sesuatu yang ada di luar manusia, dan bersitat kondisional. Kebahagiaan bersifat sangat temporal. Jika dia sedang berjaya, maka di situ ada kebahagiaan. Jika sedang jatuh, maka hilanglah kebahagiaan. Maka. menurut pandangan ini tidak ada kebahagiaan yang abadi dalam jiwa manusia. Kebahagiaan itu sifatnya sesaat, tergantung kondisi eksternal manusia. Inilah gambaran kondisi kejiwaan masyarakat Barat. Mereka senantiasa dalam keadaan mencari dan mengejar kebahagiaan, tanpa merasa puas dan menetap dalam suatu keadaan.

Islam menyatakan bahwa “Kesejahteraan” dan “kebahagiaan” itu bukan merujuk kepada sifat badani dan jasmani insan, bukan kepada diri hayawani sifat basyari; dan bukan pula suatu keadaan hayali insan yang hanya dapat dinikmati dalam alam fikiran belaka. Kesejahteraan dan kebahagiaan itu merujuk kepada keyakinan diri akan hakikat terakhir yang mutlak yang dicari-cari itu – yakni: keyakinan akan Hak Alloh Ta’ala – dan penuaian amalan yang dikerjakan oleh diri berdasarkan keyakinan itu dan menuruti titah batinnya. Jadi, kebahagiaan adalah kondisi hati yang dipenuhi dengan keyakinan (iman) dan berperilaku sesuai dengan keyakinannya itu. Bilal bin Rabah merasa bahagia dapat mempertahankan keimanannya meskipun dalam kondisi disiksa. Imam Abu Hanifah merasa bahagia meskipun harus dijebloskan ke penjara dan dicambuk setiap hari, karena menolak diangkat menjadi hakim negara. Para sahabat nabi, rela meninggalkan kampung halamannya demi mempertahankan iman. Mereka bahagia. Hidup dengan keyakinan dan enjalankan keyakinan.

Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannva. Sedang apa yang di sisi Alloh adalah lebih baik dan lebih kekal. Apakah kamu tidak memahaminya? Menurut al-Ghazali, puncak kebahagiaan pada manusia adalah jika dia berhasil mencapai ma’rifatullah”, telah mengenal Alloh SWT. Selanjutnya, al-Ghazali menyatakan :
“Ketahuilah bahagia tiap-tiap sesuatu bila kita rasakan nikmat, kesenangan dan kelezatannya maka rasa itu ialah menurut perasaan masing-masing. Maka kelezatan (mata) ialah melihat rupa yang indah, kenikmatan telinga mendengar suara yang merdu, demikian pula segala anggota yang lain dan tubuh manusia.

Ada pun kelezatan hati ialah ma’rifat kepada Alloh, karena hati dijadikan tidak lain untuk mengingat Tuhan. Seorang rakyat jelata akan sangat gembira kalau dia dapat herkenalan dengan seorang pajabat tinggi atau menteri; kegembiraan itu naik berlipat-ganda kalau dia dapat berkenalan yang lebih tinggi lagi misalnya raja atau presiden. Maka tentu saja berkenalan dengan Alloh, adalah puncak dari segala macam kegembiraan. Lebih dari apa yang dapat dibayangkan oleh manusia, sebab tidak ada yang lebih tinggi dari kemuliaan Alloh. Dan oleh sebab itu tidak ada ma’rifat yang lebih lezat daripada ma’rifatullah. Ma’rifalullah adalah buah dari ilmu. Ilmu yang mampu mengantarkan manusia kepada keyakinan. bahwa tiada Tuhan selain Alloh” (Laa ilaaha illallah). Untuk itulah, untuk dapat meraih kebahagiaan yang abadi, manusia wajib mengenal Alloh. Caranya, dengan mengenal ayat-ayat-Nya, baik ayat kauniyah maupun ayat qauliyah.

Banyak sekali ayat-ayat al-Quran yang memerintahkan manusia memperhatikan dan memikirkan tentang fenomana alam semesta, termasuk memikirkan dirinya sendiri.Disamping ayat-ayat kauniyah. Alloh SWT juga menurunkan ayat-ayat qauliyah, berupa wahyu verbal kepada utusan-Nya yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw. Karena itu, dalam QS Ali Imran 18-19, disebutkan, bahwa orang-orang yang berilmu adalah orang-orang yang bersaksi bahwa “Tiada tuhan selain Alloh”, dan bersaksi bahwa “Sesungguhnya ad-Din dalam pandangan Alloh SWT adalah Islam.”

Inilah yang disebut ilmu yang mengantarkan kepada peradaban dan kebahagiaan. Setiap lembaga pendidikan. khususnya lembaga pendidikan Islam. harus mampu mengantarkan sivitas akademika-nya menuju kepada tangga kebahagiaan yang hakiki dan abadi. Kebahagiaan yang sejati adalah yang terkait antara dunia dan akhirat. Kriteria inilah yang harusnya dijadikan indikator utama, apakah suatu program pendidikan (ta’dib) berhasil atau tidak. Keberhasilan pendidikan dalam Islam bukan diukur dari berapa mahalnya uang hayaran sekolah; berapa banyak yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri dan sebagainya. Tetapi apakah pendidikan itu mampu melahirkan manusia-manusia yang beradab yang mengenal Tuhannya dan beribadah kepada Penciptanya.

Manusia-manusia yang berilmu seperti inilah yang hidupnya hahagia dalam keimanan dan keyakinan yang hidupnya tidak terombang-ambing oleh keadaan. Dalam kondisi apa pun hidupnya bahagia, karena dia mengenal Alloh, ridho dengan keputusanNya dan berusaha menyelaraskan hidupnya dengan segala macam peraturan Alloh yang diturunkan melalui utusan-Nya.

Karena itu kita paham, betapa berbahayanya paham relativisme kebenaran yang ditaburkan oleh kaum liberal. Sebab, paham ini menggerus keyakinan seseorang akan kebenaran. Keyakinan dan iman adalah harta yang sangat mahal dalam hidup. Dengan keyakinan itulah, kata Igbal, seorang Ibrahim a.s. rela menceburkan dirinya ke dalam api. Penyair besar Pakistan ini lalu bertutur hilangnya keyakinan dalam diri seseorang. lebih buruk dari suatu perbudakan.

Sebagai orang Muslim, kita tentu mendambakan hidup bahagia semacarn itu; hidup dalam keyakinan: mulai dengan mengenal Alloh dan ridho, menerima keputusan-keputusan-Nya, serta ikhlas menjalankan aturan-aturan-Nya. Kita mendambakan diri kita merasa bahagia dalam menjalankan sholat, kita bahagia menunaikan zakat, kita bahagia bersedekah, kita bahagia menolong orang lain, dan kita pun bahagia menjalankan tugas amar ma’ruf nahi munkar.

Dalam kondisi apa pun. maka “senangkanlah hatimu!” Jangan pernah bersedih.”Kalau engkau kaya. senangkanlah hatimu! Karena di hadapanmu terbentang kesempatan untuk mengerjakan yang sulit-sulit melalui hartamu. “Dan jika engkau fakir miskin, senangkan pulalah hatimu! Karena engkau telah terlepas dari suatu penyakit jiwa, penyakit kesombongan yang sering menimpa orang-orang kaya. Senangkanlah hatimu karena tak ada orang yang akan hasad dan dengki kepadamu lagi, lantaran kemiskinanmu…” “Kalau engkau dilupakan orang, kurang masyhur, senangkan pulalah hatimu! Karena lidah tidak banyak yang mencelamu, mulut tak banyak mencacimu…”

Mudah-mudahan. Alloh mengaruniai kita ilmu yang mengantarkan kita pada sebuah keyakinan dan kebahagiaan abadi, dunia dan akhirat. Amin.

[Non-text portions of this message have been removed]

Mencintai Masjid

Posted in Uncategorized on Mei 13, 2008 by kamelia

DR. Ayub Rohadi, M.Phil

Dalam sejarah peradaban Islam, masjid merupakan sentral kegiatan keagamaan baik yang bersifat ibadah mahdhah maupun ibadah sosial. Masjid juga merupakan dasar dan simbol utama bagi masyarakat muslim sebagaimana dituturkan oleh Syaikh Abdul Hamid Kisyik dalam bukunya “Daurul Masjid fi binaail Mujatama”. Beliau mengatakan “bahwa syiar utama bagi masyarakat Islam adalah Masjid yang dibangun di setiap wilayah komunitas muslim”. Oleh karenanya Rasulullah jika mengutus pasukan jihad ke sebuah tempat dan tiba di waktu malam, maka beliau menginstruksikan menunggu sampai datang waktu subuh dan jika terdengar suara azan di sebuah masjid membatalkan penyerangan.

Dalam kejadian hijrah ke kota Madinah, ketika Rasulullah tiba di sana beliau singgah di rumah sahabat Anshar yang bernama Kultsum bin Hadm dan tinggal beberapa hari. Di sela-sela menikmati istirahatnya, beliau mengajak para sahabatnya untuk membangun sebuah masjid yang dikenal dengan Masjid Quba. Al-Qur’an telah mengabadikan kisah pembangunan masjid tersebut sebagai masjid yang dibangun di atas ketakwaan kepada ALLAH Subhanahu Wata’ala.

“Sungguh masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang bersih”. (QS. At-Taubah:108).

Dalam buku Siroh karya Dr. Ramadan Al-Buthi beliau disebutkan bahwa ada tiga pondasi landasan masyarakat Islam di masa Nabi yang juga harus ada pada masyarakat Islam saat ini, yaitu: masyarakat yang berbasis masjid, masyarakat yang menjaga Ukhuwah Islamiyah, dan masyarakat yang berbasis undang-undang (aturan) yang dikenal dengan perjanjian Madinah (Mitsaqul Madinah).

Dari analisa sejarah, masyarakat Islam tidak pernah lepas dari keberadaan sebuah masjid yang merupakan rahim dari sebuah peradaban yang berbasis tauhid. Kehadiran masjid sudah semestinya disambut oleh setiap muslim dengan suka-cita sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada ALLAH Subhanahu Wata’ala.

Memakmurkan Masjid adalah Cinta Kepada Masjid

Dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu Wata’ala berfirman: “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. At-Taubah:18).

Para mufasir menafsirkan kata ‘ya’muru’ dalam ayat tersebut dengan dua formula, yaitu : Memakmurkan secara bangunan fisiknya, dan memakmurkannya dengan melakukan segala bentuk ibadah seperti shalat lima waktu, pengajian, musyawarah tentang keagamaan dan sosial dan juga kegiatan seremonial seperti Maulid Nabi atau Isra Mi’raj. Dalam ayat di atas pula disebutkan ciri orang-orang yang senantiasa memakmurkan masjid yaitu orang yang beriman kepada ALLAH dan hari pembalasan, orang yang selalu mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan orang yang tidak takut kecuali kepada ALLAH Subhanahu Wata’ala. Maka tidak mungkin orang-orang kafir akan memakmurkan masjid-masjid yang ada di muka bumi, bahkan bagi mereka haram hukumnya untuk masuk ke dalamnya.

Shalat Berjama’ah

Terlepas dari perdebatan seputar hukum shalat berjama’ah antara Wajib dan Sunnah Muakkadah yang penting ada satu hal yang patut di perhatikan bahwa ada hikmah yang cukup mendalam dibalik itu semua sebagaimana diterangkan dalam hadits-hadits Rasulullah Shallalahu ‘alaihi Wasallam. Dalam shalat berjama’ah pahala seseorang dilipat-gandakan menjadi duapuluh tujuh derajat. Abdullah bin Umar RA, meriwayatkan sebuah hadits tentang lipatan pahala shalat berjama’ah.

” Shalat berjama’ah itu lebih utama daripada shalat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat “. (H.R. Bukhari & Muslim)

Sahabat Abi Ummi Maktum, seorang yang buta sejak kecil datang menghampiri Rasulullah untuk meminta dispensasi agar tidak datang ke masjid shalat berjama’ah karena tidak ada yang menuntunnya. Pada awalnya Rasulullah mengijinkan, namun ketika ia pamit dan melangkah beberapa langkah, Rasulullah memanggil beliau dan ia pun kembali menghampirinya. Rasulullah bertanya kepadanya, ‘apakah anda bisa mendengar panggilan azan?’ Ujarnya menjawab: ‘ya’. Rasulullah bersabda, “kalau memang demikian datanglah anda ke masjid”. (HR.Muslim)

Maka orang yang senantiasa mondar-mandir ke masjid guna melaksanakan shalat adalah orang yang selalu mendapat ampunan dari ALLAH Subhanahu Wata’ala. Setiap langkah yang ia ayunkan, ditinggikan derajatnya di sisi ALLAH, dan malaikat mendo’akannya selama ia berada dalam penantian shalat. Semua ini merupakan aspek filosofis dalam shalat berjamaah di masjid bagi kaum laki-laki. Bahkan yang lebih penting lagi dari hikmah yang ada dalam shalat berjama’ah yaitu setan tidak akan kuat menggoda orang yang senantiasa menjaga shalat berjamaah sebagaimana Rasulullah menggambarkan dalam haditsnya, ” bahwa kambing yang akan dimangsa serigala adalah kambing yang selalu terpisah dari rombongan “. Begitu juga seorang Muslim yang selalu shalat sendirian apalagi ia melaksanakan-nya di rumah dengan tanpa ada uzur yang dibenarkan secara syar’i. Shalat berjama’ah di samping membangun hubungan vertikal yang baik dengan ALLAH, namun ada juga di dalamnya nilai-nilai horizontal secara sosial dalam
bentuk silaturrahim sesama muslim. Di masa Rasulullah komitmen yang dibangun oleh para sahabat terlihat dari shalat mereka secara berjamaah, bahkan jika ada salah seorang sahabat yang tidak kelihatan pada tiga waktu shalat fardhu sudah bisa dipastikan bahwa sahabat tersebut sedang uzur (sakit).

Kajian Keagamaan (Pengajian)

Masyarakat muslim membutuhkan bimbingan seorang ulama yang paham tentang ilmu agama. Untuk mendapatkan bimbingan tentang ilmu agama pihak Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) sudah seyogyanya memprogramkan kajian rutin keagamaan untuk memberikan bekal kepada para Jama’ah tentang hukum Islam. Menuntut ilmu, baik itu ilmu agama maupun ilmu umum, adalah kewajian bagi setiap muslim berdasarkan dalil-dalil Syar’i. Namun yang membedakan hanya muatan wajibnya, yakni antara Wajib ‘ain (wajib individu) atau Wajib kifayah (wajib bagi sebagian orang Islam). Maka, urgensi menuntut ilmu dalam Islam tidak bisa diragukan lagi karena wahyu pertama yang turun di gua hira menjelaskan tentang pentingnya membaca, “iqra bismi robbikalladzi khalaq. Khalaqal insana min ‘alaq. qra warbobbukal akrom. Alladzi ‘allama bil qalam “. Mambaca adalah merupakan sarana utama untuk mendapatkan ilmu. Ilmu dalam Islam merupakan kunci untuk menjadi orang baik sebagaimana sabda Rasulullah, ” Barangsiapa yang ALLAH
kehendaki menjadi orang baik, indikatornya ialah ia diberikan kefahaman tentang agama “. Untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat, pihak pengurus masjid harus memilih sosok ulama yang memiliki kredibelitas secara ilmu dan amal. Maka, orang yang menggabungkan antara Ilmu dan Iman, atau antara Ilmu dan Amal itu dianggap sebagai seorang intelektual dalam terminologi Al-Qur’an.

” Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama “. (QS. Al-Faathir:28).

Untuk mengetahui bahwa seseorang mencintai masjid atau tidak bisa dilihat dari tiga aspek yang disebutkan di atas yaitu : Berkontribusi dalam membangun masjid dengan berinfak sebagian harta dan atau dengan menjaga shalat lima waktu berjamaah di masjid, dan atau dengan menghadiri kajian-kajian keislaman yang telah diagendakan oleh DKM. Jika hati seorang Muslim selalu rindu dengan tiga hal tersebut, maka ia termasuk orang yang dijanjikan oleh Rasul yaitu termasuk salah satu dari tujuh golongan yang akan mendapatkan payung ALLAH di padang mahsyar nanti, di mana tidak ada naungan melainkan naungan-Nya.

Wallahu’alam bishowab.

Wudhu Lahir Bathin

Posted in Uncategorized on Mei 13, 2008 by kamelia

Seorang ahli ibadah bernama Isam Bin Yusuf, sangat warak dan khusyuk sholatnya.

Namun, dia selalu khawatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusyuk dan selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih ibadahnya, demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasa kurang khusyuk.

 

“Wahai Aba Abdurrahman, bagaimanakah caranya tuan sholat?”

 

Hatim berkata,”Apabila masuk waktu sholat, aku berwudhuk zahir dan batin.”

 

Isam bertanya, “Bagaimana wudhuk zahir dan batin itu? ”

 

Hatim berkata,”Wudhuk zahir sebagaimana biasa yaitu membasuh semua anggota wudhuk dengan air”.
Sementara wudhuk batin ialah membasuh anggota dengan tujuh perkara :-
* Bertaubat
* Menyesali dosa yang telah dilakukan
* Tidak tergila-gilakan dunia
* Tidak mencari/mengharap pujian orang (riya’)
* Tinggalkan sifat berbangga
* Tinggalkan sifat khianat dan menipu
* Meninggalkan sifat dengki.”

 

aku bertasyahud dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas.

Beginilah aku bersholat selama 30 tahun.”

Untuk manfaat kita bersama, Tolong sampaikan email ini kepada sahabat2.

Arti Nama Dalam Islam

Posted in Uncategorized on Mei 13, 2008 by kamelia

Oleh: Aus Hidayat

dakwatuna.com – Di antara keistimewaan agama Islam adalah namanya.
Berbeda dengan agama lain, nama agama ini bukan berasal dari nama
pendirinya atau nama tempat penyebarannya. Tapi, nama Islam
menunjukkan sikap dan sifat pemeluknya terhadap Allah.

Yang memberi nama Islam juga bukan seseorang, bukan pula suatu
masyarakat, tapi Allah Ta’ala, Pencipta alam semesta dan segala
isinya. Jadi, Islam sudah dikenal sejak sebelum kedatangan Nabi
Muhammad saw. dengan nama yang diberikan Allah.

Islam berasal dari kata salima yuslimu istislaam –artinya tunduk atau
patuh– selain yaslamu salaam –yang berarti selamat, sejahtera, atau
damai. Menurut bahasa Arab, pecahan kata Islam mengandung pengertian:
islamul wajh (ikhlas menyerahkan diri kepada Allah), istislama (tunduk
secara total kepada Allah), salaamah atau saliim (suci dan bersih),
salaam (selamat sejahtera), dan silm (tenang dan damai). Semua
pengertian itu digunakan Alquran seperti di ayat-ayat berikut ini.

Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas
menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan,
dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim
menjadi kesayangan-Nya. (An-Nisa’: 125)

Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal
kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi,
baik dengan suka maupun terpaksa dan Hanya kepada Allahlah mereka
dikembalikan. (Ali Imran: 83)

Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.
(Asy-Syu’araa’: 89)

Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami itu datang
kepadamu, Maka Katakanlah: “Salaamun alaikum (Mudah-mudahan Allah
melimpahkan kesejahteraan atas kamu).” Tuhanmu Telah menetapkan atas
Diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat
kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat
setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, Maka Sesungguhnya
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-An’am: 54)

Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan
Allah pun bersamamu dan dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala
amal-amalmu. (Muhammad: 35)

Sementara sebagai istilah, Islam memiliki arti: tunduk dan menerima
segala perintah dan larangan Allah yang terdapat dalam wahyu yang
diturunkan Allah kepada para Nabi dan Rasul yang terhimpun di dalam
Alquran dan Sunnah. Manusia yang menerima ajaran Islam disebut muslim.
Seorang muslim mengikuti ajaran Islam secara total dan perbuatannya
membawa perdamaian dan keselamatan bagi manusia. Dia terikat untuk
mengimani, menghayati, dan mengamalkan Alquran dan Sunnah.

Kalimatul Islam (kata Al-Islam) mengandung pengertian dan
prinsip-prinsip yang dapat didefinisikan secara terpisah dan bila
dipahami secara menyeluruh merupakan pengertian yang utuh.

1. Islam adalah Ketundukan

Allah menciptakan alam semesta, kemudian menetapkan manusia sebagai
hambaNya yang paling besar perannya di muka bumi. Manusia berinteraksi
dengan sesamanya, dengan alam semesta di sekitarnya, kemudian berusaha
mencari jalan untuk kembali kepada Penciptanya. Tatkala salah
berinteraksi dengan Allah, kebanyakan manusia beranggapan alam sebagai
Tuhannya sehingga mereka menyembah sesuatu dari alam. Ada yang
menduga-duga sehingga banyak di antara mereka yang tersesat. Ajaran
yang benar adalah ikhlas berserah diri kepada Pencipta alam yang
kepada-Nya alam tunduk patuh berserah diri (An-Nisa: 125). Maka, Islam
identik dengan ketundukan kepada sunnatullah yang terdapat di alam
semesta (tidak tertulis) maupun Kitabullah yang tertulis (Alquran).

2. Islam adalah Wahyu Allah

Dengan kasih sayangnya, Allah menurunkan Ad-Dien (aturan hidup) kepada
manusia. Tujuannya agar manusia hidup teratur dan menemukan jalan yang
benar menuju Tuhannya. Aturan itu meliputi seluruh bidang kehidupan:
politik, hukum, sosial, budaya, dan sebagainya. Dengan demikian,
manusia akan tenteram dan damai, hidup rukun, dan bahagia dengan
sesamanya dalam naungan ridha Tuhannya (Al-Baqarah: 38).

Karena kebijaksanaan-Nya, Allah tidak menurunkan banyak agama. Dia
hanya menurunkan Islam. Agama selain Islam tidak diakui di sisi Allah
dan akan merugikan penganutnya di akhirat nanti.

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada
berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah
datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di
antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka
sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (Ali Imran: 19)

Islam merupakan satu-satunya agama yang bersandar kepada wahyu Allah
secara murni. Artinya, seluruh sumber nilai dari nilai agama ini
adalah wahyu yang Allah turunkan kepada para Rasul-Nya terdahulu.
Dengan kata lain, setiap Nabi adalah muslim dan mengajak kepada ajaran
Islam. Ada pun agama-agama yang lain, seperti Yahudi dan Nasrani,
adalah penyimpangan dari ajaran wahyu yang dibawa oleh para nabi tersebut.

3. Islam adalah Agama Para Nabi dan Rasul

Perhatikan kesaksian Alquran berikut ini bahwa Nabi Ibrahim adalah
muslim, bukan Yahudi atau pun Nasrani.

Dan Ibrahim Telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian
pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah
Telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam
memeluk agama Islam”. (Al-Baqarah: 132)

Nabi-nabi lain pun mendakwahkan ajaran Islam kepada manusia. Mereka
mengajarkan agama sebagaimana yang dibawa Nabi Muhammad saw. Hanya
saja, dari segi syariat (hukum dan aturan) belum selengkap yang
diajarkan Nabi Muhammad saw. Tetapi, ajaran prinsip-prinsip keimanan
dan akhlaknya sama. Nabi Muhammad saw. datang menyempurnakan ajaran
para Rasul, menghapus syariat yang tidak sesuai dan menggantinya
dengan syariat yang baru.

Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan
kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub,
dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para
nabi dari Tuhan mereka. kami tidak membeda-bedakan seorangpun di
antara mereka dan Hanya kepada-Nyalah kami menyerahkan diri.” (Ali
Imran: 84)

Menurut pandangan Alquran, agama Nasrani yang ada sekarang ini adalah
penyimpangan dari ajaran Islam yang dibawa Nabi Isa a.s. Nama agama
ini sesuai nama suku yang mengembangkannya. Isinya jauh dari Kitab
Injil yang diajarkan Isa a.s.. Agama Yahudi pun telah menyimpang dari
ajaran Islam yang dibawa Nabi Musa a.s.. Diberi nama dengan nama salah
satu Suku Bani Israil, Yahuda. Kitab Suci Taurat mereka campur aduk
dengan pemikiran para pendeta dan ajarannya ditinggalkan.

4. Islam adalah Hukum-hukum Allah di dalam Alquran dan Sunnah

Orang yang ingin mengetahui apa itu Islam hendaknya melihat Kitabullah
Alquran dan Sunnah Rasulullah. Keduanya, menjadi sumber nilai dan
sumber hukum ajaran Islam. Islam tidak dapat dilihat pada perilaku
penganut-penganutnya, kecuali pada pribadi Rasulullah saw. dan para
sahabat beliau. Nabi Muhammad saw. bersifat ma’shum (terpelihara dari
kesalahan) dalam mengamalkan Islam.

Beliau membangun masyarakat Islam yang terdiri dari para sahabat yang
langsung terkontrol perilakunya oleh Allah dan Rasul-Nya. Jadi, para
sahabat Nabi tidaklah ma’shum bagaimana Nabi, tapi mereka istimewa
karena merupakan pribadi-pribadi dididik langsung Nabi Muhammad. Islam
adalah akidah dan ibadah, tanah air dan penduduk, rohani dan amal,
Alquran dan pedang. Pemahaman yang seperti ini telah dibuktikan dalam
hidup Nabi, para sahabat, dan para pengikut mereka yang setia
sepanjang zaman.

5. Islam adalah Jalan Allah Yang Lurus

Islam merupakan satu-satunya pedoman hidup bagi seorang muslim.
Baginya, tidak ada agama lain yang benar selain Islam. Karena ini
merupakan jalan Allah yang lurus yang diberikan kepada orang-orang
yang diberi nikmat oleh Allah.

Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka
ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain),
Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang
demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (Al-An’am: 153)

Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan)
dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu
ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak Mengetahui. (Al-Jaatsiyah: 18)

6. Islam Pembawa Keselamatan Dunia dan Akhirat

Sebagaimana sifatnya yang bermakna selamat sejahtera, Islam
menyelamatkan hidup manusia di dunia dan di akhirat.

Keselamatan dunia adalah kebersihan hati dari noda syirik dan
kerusakan jiwa. Sedangkan keselamatan akhirat adalah masuk surga yang
disebut Daarus Salaam.

Allah menyeru (manusia) ke darussalam (surga), dan menunjuki orang
yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam). (Yunus: 25)

Dengan enam prinsip di atas, kita dapat memahami kemuliaan dan
keagungan ajaran agama Allah ini. Nabi Muhammad saw. bersabda, “Islam
itu tinggi dan tidak ada kerendahan di dalamnya.” Sebagai ajaran,
Islam tidak terkalahkan oleh agama lain. Maka, setiap muslim wajib
meyakini kelebihan Islam dari agama lain atau ajaran hidup yang lain.
Allah sendiri memberi jaminan.

Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah
Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi
agama bagimu. (Al-Maa-idah: 3)

http://www.dakwatuna.com/2007/arti-nama-islam/